Presiden Israel Isaac Herzog Kecewa Trump Hentikan Bantuan Militer
Presiden Israel, Isaac Herzog, mengungkapkan rasa terkejutnya setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mendadak mengumumkan penghentian bantuan untuk negaranya. Keputusan ini dinilai akan segera mengakhiri dukungan finansial dan militer AS kepada Israel pada tahun ini, sebuah langkah yang jauh lebih cepat dibandingkan nota kesepahaman yang seharusnya masih berlaku hingga tahun 2028.
Respons Herzog Terhadap Kebijakan Trump
Herzog menggambarkan kabar penghentian bantuan tersebut sebagai sesuatu yang datang secara tiba-tiba dan mengejutkan. Ia tidak menutupi kekhawatirannya mengenai dampak signifikan yang akan ditimbulkan, terutama karena selama ini Amerika Serikat merupakan mitra utama Israel dalam pengadaan persenjataan pertahanan.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Herzog saat ia mengadakan pertemuan dengan partai Yashar, yang dipimpin oleh rival utama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yakni Gadi Eisenkot. Dalam forum tersebut, ia menekankan urgensi dari situasi yang sedang dihadapi negaranya saat ini.
"Masalah bantuan Amerika ini sangat mengkhawatirkan saya, dan kabar ini datang begitu tiba-tiba seperti petir di siang bolong. Kita memiliki nota kesepahaman (MoU) dengan AS yang seharusnya berlaku hingga tahun 2028, dan ini merupakan salah satu tujuan utama," ujar Herzog, dikutip dari CNN.
Seruan Pembentukan Pemerintahan Baru
Di sela-sela diskusi mengenai krisis bantuan luar negeri tersebut, Herzog juga menyinggung pentingnya stabilitas politik internal di Israel. Ia berpendapat bahwa negara tersebut harus segera membentuk pemerintahan yang solid agar tidak terjebak dalam siklus pemilihan umum yang terus-menerus.
"Oleh karena itu, sebuah pemerintahan harus segera dibentuk agar kita tidak perlu terus-menerus mengadakan pemilihan umum," kata Herzog dalam pertemuan tersebut.
Dampak Finansial Bagi Israel
Sebelumnya, Trump telah menyatakan dengan tegas bahwa bantuan AS untuk Israel akan berakhir pada tahun ini. Keputusan ini secara otomatis memangkas dukungan yang seharusnya berjalan dua tahun lebih awal dari jadwal yang tertuang dalam nota kesepahaman kedua negara.
Selama ini, kesepakatan bilateral tersebut menjadi landasan utama bagi pemberian bantuan militer AS kepada Israel dengan nilai mencapai US$3,8 miliar atau sekitar Rp68 triliun setiap tahunnya. Dana tersebut dialokasikan khusus untuk pembelian berbagai jenis persenjataan buatan Amerika Serikat.
Hingga saat ini, Trump belum memberikan penjelasan lebih rinci mengenai mekanisme teknis penghentian bantuan tersebut. Dalam sebuah wawancara melalui sambungan telepon dengan Fox News pada hari pemilihan umum, Trump mengungkapkan pandangannya bahwa Israel telah menerima bantuan dalam jumlah yang sangat besar dan menilai negara tersebut kini tidak lagi membutuhkannya.
"Itu adalah poin pembicaraan yang buruk, karena ketika Anda melontarkan pertanyaan, 'Mengapa kita tidak memberikan 4 miliar dolar kepada semua orang?' padahal Israel adalah prioritas utama kita; kita memberikan lebih banyak kepada mereka dibandingkan kepada pihak mana pun, dan mereka sebenarnya tidak lagi membutuhkannya," ujar Trump kepada Fox News. Pernyataan ini kini memicu ketidakpastian mendalam mengenai masa depan kerja sama pertahanan kedua negara di masa depan.

















