Menu
Close
    WartaDermayu

    Pengupas Fakta dan Peristiwa

    Sembunyikan Penghasilan dari Istri, Bolehkah dalam Islam? Ini Kata Buya Yahya

    Smallest Font
    Largest Font

    Dalam kehidupan rumah tangga, keterbukaan finansial sering kali menjadi topik yang sensitif. Tidak semua suami merasa perlu atau mampu bersikap transparan sepenuhnya mengenai jumlah pendapatan harian yang mereka peroleh. Sebagian suami memilih untuk menyisihkan uang secara diam-diam sebagai persiapan kebutuhan mendadak atau cadangan masa depan, namun ada pula yang sengaja menyebut nominal yang lebih rendah kepada pasangannya. Lantas, bagaimana pandangan syariat Islam mengenai tindakan tersebut?

    Permasalahan ini muncul setelah seorang pria bernama Sabar yang berasal dari Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, mengajukan pertanyaan kepada pendakwah kondang, . Dalam pertanyaannya, ia mengaku sering kali mendapatkan penghasilan sebesar Rp500.000 dalam satu hari, namun ia hanya mengaku kepada istrinya mendapatkan Rp300.000. Selisih uang tersebut ia simpan dengan tujuan sebagai dana cadangan jika suatu saat ia tidak mendapatkan penghasilan sama sekali.

    Hukum Berbohong dalam Rumah Tangga

    Menanggapi fenomena tersebut, Buya Yahya memberikan penjelasan mendalam. Ia menegaskan bahwa pada dasarnya berbohong bukanlah tindakan yang dibenarkan dalam ajaran Islam, karena kejujuran adalah fondasi utama dalam hubungan suami istri. Meski demikian, ia juga memberikan catatan penting bahwa suami tidak memiliki kewajiban mutlak untuk merinci setiap rupiah pendapatan yang ia terima kepada istrinya.

    Buya Yahya memahami motif di balik tindakan Sabar yang menyimpan sebagian uang untuk berjaga-jaga. Menurutnya, menyiapkan dana darurat memang penting, namun cara yang dilakukan dengan tidak jujur adalah hal yang sebaiknya dihindari. Ia menekankan bahwa suami tidak perlu berbohong jika tujuannya hanya ingin mengelola tabungan keluarga.

    "Mohon maaf berbohong itu tidak dibenarkan, tidak baik," ujar Buya Yahya dalam penjelasannya yang dikutip dari YouTube pada Selasa (20/10/26).

    Membangun Manajemen Keuangan Bersama

    Lebih lanjut, Buya Yahya menyarankan agar setiap pasangan suami istri membangun kesepahaman terkait pengelolaan keuangan rumah tangga. Jika istri dinilai mampu diajak bekerja sama, sebaiknya suami menyampaikan penghasilan yang sebenarnya dan mendiskusikan bagaimana pembagian uang tersebut, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk dialokasikan sebagai tabungan di masa depan.

    Buya menjelaskan bahwa setiap pasangan tentu memiliki karakter dan kebiasaan yang berbeda dalam mengelola keuangan. Terdapat istri yang sangat cermat dalam mengatur uang, gemar bersedekah, serta memahami pentingnya menabung. Namun, ada pula kondisi di mana pasangan dinilai kurang bijak dalam membelanjakan harta yang ada.

    Kewajiban Nafkah Suami

    Dalam konteks kewajiban, Buya Yahya menegaskan bahwa seorang suami tidak dibebani kewajiban untuk selalu memberi tahu secara terperinci seluruh pemasukan yang diperolehnya kepada istri. Fokus utama yang menjadi tanggung jawab suami adalah memenuhi nafkah lahiriah istri secara cukup sesuai dengan kemampuan finansialnya.

    "Yang wajib bagi seorang suami adalah memberikan nafkah yang cukup di saat dia mampu," kata Buya Yahya. Dengan demikian, selama nafkah terpenuhi dengan baik dan adil sesuai kesepakatan, rumah tangga diharapkan tetap terjaga keharmonisannya tanpa harus diwarnai dengan ketidakterbukaan yang berlebihan.

    Follow wartadermayu.comAdd to preferred sources on Google
    Editors Team
    Gilang Permana

    Most viewed