Rupiah Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS, Cadangan Devisa Jadi Sorotan
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengakhiri sesi perdagangan hari Jumat, 6 November 2026, dengan catatan pelemahan tipis. Meskipun sempat mengalami tekanan yang cukup dalam sepanjang hari, mata uang Garuda mampu melakukan upaya perbaikan posisi sebelum perdagangan resmi ditutup.
Berdasarkan data dari Refinitiv, rupiah ditutup pada level Rp18.080 per dolar AS. Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 0,03 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya, Kamis, 5 November 2026, yang berada di level Rp18.075 per dolar AS.
Dinamika Perdagangan
Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, rupiah sempat menunjukkan performa positif dengan penguatan sebesar 0,03 persen ke level Rp18.075 per dolar AS. Namun, momentum penguatan tersebut tidak bertahan lama karena tekanan pasar kembali menekan mata uang domestik.
Dalam pergerakan selanjutnya, rupiah sempat tertekan hingga menyentuh level Rp18.140 per dolar AS. Beruntung, menjelang akhir sesi perdagangan, terjadi aksi beli yang mendorong rupiah untuk kembali menguat, sehingga mampu memangkas pelemahan yang terjadi dan hanya ditutup turun tipis sebanyak lima poin dibandingkan hari sebelumnya.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang berfungsi mengukur kekuatan mata uang Dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia tercatat menguat 0,39 persen ke posisi 101,939 pada pukul 15.00 WIB.
Cadangan Devisa Indonesia
Sentimen utama yang kini menjadi perhatian para pelaku pasar domestik adalah perkembangan data cadangan devisa. Bank Indonesia (BI) secara resmi telah melaporkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 berada di angka US$146,8 miliar.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan posisi pada akhir September 2026 yang tercatat sebesar US$146,3 miliar. Lonjakan cadangan devisa ini dipicu oleh adanya penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta didukung oleh penerimaan pajak dan jasa.
Kenaikan cadangan devisa ini terjadi di tengah upaya berkelanjutan pemerintah dalam melakukan pembayaran utang luar negeri serta langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang terus dilakukan oleh Bank Indonesia.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa posisi cadangan devisa saat ini dinilai masih cukup kuat untuk menopang kebutuhan pembiayaan eksternal Indonesia. "Posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," ujar Ramdan, Jumat, 6 November 2026.
Lebih lanjut, posisi tersebut diketahui masih berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya dipatok pada kisaran tiga bulan impor. BI menegaskan bahwa cadangan devisa yang memadai ini sangat penting untuk mendukung ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.









