Tuntut Kepastian Irigasi Sadawarna, Petani Gantar Siapkan Aksi 4 November
Bagi kalangan petani, tertundanya pembangunan infrastruktur irigasi bukan sekadar masalah administratif proyek yang mangkrak. Kondisi ini secara langsung mengancam keberlangsungan sawah yang terancam kekeringan, ketidakpastian siklus musim tanam, hingga stabilitas pendapatan ekonomi keluarga yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Persoalan krusial ini kini kembali mencuat di Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, di mana harapan warga akan kepastian pembangunan jaringan irigasi dari Bendungan Sadawarna menuju Waduk Cipancuh masih belum menemui titik terang.
Buntu dalam Audiensi
Aliansi Petani Gantar Bersatu telah mengambil sikap tegas untuk tetap melaksanakan aksi unjuk rasa di Bendungan Sadawarna, Jawa Barat, pada Rabu (4/11/2026). Keputusan tersebut diambil sebagai respons atas hasil pertemuan dengan BBWS Citarum di Bandung pada Senin (2/11/2026) yang dinilai tidak menghasilkan kesepakatan konkret bagi para petani.
Delegasi petani yang dipimpin oleh Ari Rana dan H. Usin Sugiyanto sebelumnya mendatangi kantor tersebut dengan harapan mendapatkan jaminan tertulis terkait kelanjutan proyek vital tersebut bagi pertanian di wilayah Indramayu Barat. Namun, penjelasan yang disampaikan pihak otoritas justru mengonfirmasi bahwa pengerjaan jaringan irigasi tersebut masih terkendala oleh masalah anggaran.
Kendala Anggaran dan Birokrasi
Dalam audiensi itu, Kepala BBWS Citarum, Mochammad Dian Al Ma’ruf, memaparkan bahwa rencana pembangunan Daerah Irigasi (DI) Sadawarna untuk mengalirkan air ke Waduk Cipancuh sejatinya sudah disusun. Proyek ini direncanakan melintasi Desa Bantarwaru dan Desa Mekarwaru, Kecamatan Gantar. Sayangnya, realisasi fisik di lapangan belum bisa dipastikan karena program tersebut terdampak oleh kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
Selain masalah ketersediaan dana, proyek ini juga masih harus melewati serangkaian tahapan birokrasi yang panjang sebelum bisa dieksekusi. Bagi masyarakat petani, penjelasan tersebut bukanlah jawaban yang mereka harapkan, mengingat keterbatasan pasokan air selama ini menjadi hambatan utama dalam mengelola lahan pertanian mereka.
Tuntutan Kepastian bagi Petani
Ketua Aliansi Petani Gantar Bersatu, Ari Rana, menegaskan bahwa jaringan irigasi tersebut merupakan kebutuhan mendasar yang sangat mendesak. "Keberadaan jaringan irigasi ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur biasa, tapi urusan perut dan keberlanjutan sawah kami yang menahun kekurangan air," ujar Ari.
Para petani menuntut adanya jaminan tertulis mengenai kelanjutan proyek, termasuk jadwal pengerjaan yang transparan. Mereka menginginkan bukti nyata interkoneksi air dari Bendungan Sadawarna ke Waduk Cipancuh, bukan hanya sekadar rencana di atas kertas. Menurut Ari, alasan keterbatasan anggaran tidak menyelesaikan masalah krusial yang mereka hadapi setiap hari di lapangan.
Langkah Lanjutan di Lapangan
Tanpa adanya kepastian waktu, masyarakat petani masih terpaksa menghadapi ancaman ketidakpastian pasokan air. Karena tidak ada solusi konkret yang ditawarkan, Aliansi Petani Gantar Bersatu memutuskan untuk melanjutkan rencana aksi mereka. "Karena belum ada solusi konkret bagi para petani Kecamatan Gantar, kami tetap akan melaksanakan aksi pada 4 November 2026 di Bendungan Sadawarna," tegas Ari.
Aksi ini diharapkan menjadi wadah bagi petani untuk menyuarakan tuntutan mereka secara terbuka kepada para pemangku kebijakan. Persoalan ini pada akhirnya bukan lagi sekadar urusan petani Gantar, melainkan menyangkut ketahanan pangan daerah. Petani membutuhkan kepastian kapan air akan mengalir ke lahan mereka agar perencanaan musim tanam tidak lagi terganggu. Kini, masyarakat menunggu respons pemerintah, sebab janji pembangunan saja tidak cukup untuk menghidupi sawah yang kering.

















