Amalan Doa dari Ustaz Khalid Basalamah untuk Kelancaran Rezeki
Dalam pandangan Islam, konsep rezeki mencakup makna yang sangat luas. Karunia Allah SWT tidak terbatas pada materi atau harta benda semata, melainkan juga meliputi kesehatan fisik, ketenangan batin, kemudahan dalam menjalankan ibadah, hingga dikaruniai keturunan yang saleh dan salehah. Seluruh anugerah tersebut merupakan nikmat yang sudah sepatutnya disyukuri oleh setiap hamba.
Kendati demikian, umat Muslim tetap diwajibkan untuk berikhtiar mencari nafkah yang halal sebagai bentuk tanggung jawab memenuhi kebutuhan hidup. Selain melalui kerja keras dan usaha nyata, memanjatkan doa kepada Allah SWT menjadi langkah pelengkap yang krusial agar setiap upaya yang dilakukan mendapatkan rida-Nya.
Nasihat dari Arab Saudi
Dalam sebuah sesi ceramah, Ustaz Khalid Basalamah membagikan sebuah amalan doa yang bersumber langsung dari ayat suci Alquran. Kisah ini bermula dari nasihat seorang syekh di Universitas Ummul Qura, Arab Saudi, yang memberikan arahan kepada seorang pengusaha di Jeddah terkait cara memohon tambahan rezeki.
Pengusaha tersebut sebelumnya merasa perlu mengetahui amalan spesifik agar Allah SWT senantiasa melimpahkan rezeki kepadanya. Ustaz Khalid menuturkan bahwa syekh tersebut mendapatkan pertanyaan dari temannya yang berprofesi sebagai pebisnis perihal amalan apa yang sebaiknya dibaca secara rutin.
"Temannya mengatakan, 'Saudaraku, apa saran Anda, apa doa yang saya ucapkan supaya Allah selalu tambah rezeki saya'," tutur Ustaz Khalid Basalamah sebagaimana dikutip dari YouTube Jalan Islam pada Rabu (21/10/2026).
Mengamalkan Surah Adz-Dzariyat
Sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, syekh itu menyarankan agar sang pengusaha merenungi kandungan Surah Adz-Dzariyat ayat 56 hingga 58. Ketiga ayat ini mengandung esensi mengenai tujuan penciptaan jin dan manusia, sekaligus penegasan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya pemberi rezeki yang tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya.
Ayat ke-56 berbunyi: Wa mâ khalaqtul-jinna wal-insa illâ liya‘budûn. Artinya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." Ayat ini menjadi pengingat bagi umat manusia bahwa misi utama kehidupan di dunia adalah beribadah kepada Allah SWT.
Setiap ikhtiar dalam mencari nafkah akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT selama dilakukan dengan cara yang halal dan tetap mematuhi tuntunan agama. Hal ini menunjukkan bahwa keselarasan antara bekerja dan beribadah menjadi kunci utama dalam meraih keberkahan hidup.
Selanjutnya, pada ayat ke-57, Allah SWT berfirman: Mâ urîdu min-hum mir rizqiw wa mâ urîdu ay yuth‘imûn. Ayat ini semakin mempertegas posisi manusia sebagai hamba yang bergantung sepenuhnya kepada sang Pencipta, sementara Allah SWT menjamin rezeki bagi seluruh makhluk-Nya.

















