Kemarau Panjang di Indonesia Ancam Pasokan Nikel untuk Industri China
Kekeringan berkepanjangan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia kini mulai memberikan dampak signifikan terhadap industri kendaraan listrik dunia. Kondisi cuaca ekstrem tersebut mengakibatkan sejumlah fasilitas pengolahan nikel terpaksa melakukan pemangkasan kapasitas produksi, sehingga muncul kekhawatiran mengenai potensi terganggunya pasokan bahan baku baterai mobil listrik, khususnya untuk industri di China.
Posisi Strategis Indonesia dalam Rantai Pasok
Indonesia saat ini memiliki posisi yang sangat strategis dalam ekosistem nikel global. Sebagai negara produsen nikel terbesar, Indonesia merupakan pemasok utama bahan baku penting yang digunakan dalam produksi baterai lithium-ion. Selain itu, sebagian besar industri pengolahan nikel yang beroperasi di Tanah Air juga mendapatkan dukungan investasi dari perusahaan asal China.
Namun, ketergantungan industri tersebut terhadap ketersediaan air menjadi persoalan serius ketika curah hujan mengalami penurunan drastis. Salah satu teknologi pengolahan nikel yang terdampak langsung adalah High Pressure Acid Leaching (HPAL), yang membutuhkan air dalam jumlah besar untuk memproses bijih nikel menjadi bahan baku baterai.
Dampak pada Operasional Nickel Industries
Dampak dari kekeringan ini mulai dirasakan oleh sejumlah perusahaan besar. Nickel Industries, perusahaan yang berbasis di Sydney dan mengoperasikan fasilitas pengolahan nikel di Sulawesi Tengah, dilaporkan harus memangkas kapasitas operasional salah satu pabrik pengolahan asamnya. Dalam laporan perusahaan, fasilitas tersebut kini hanya beroperasi pada kapasitas sekitar 30 persen. Angka itu turun dibandingkan kondisi sebelumnya yang masih mampu berjalan pada kapasitas 50 persen.
Selain itu, pihak Nickel Industries juga mengungkapkan bahwa keterbatasan air berpotensi dialami fasilitas pengolahan nikel lainnya yang menggunakan infrastruktur bersama. Kondisi tersebut membuat sejumlah perusahaan mulai mempertimbangkan langkah serupa, termasuk mengurangi tingkat produksi.
Efek Berantai bagi Industri China
Situasi ini menjadi perhatian serius karena Indonesia memasok lebih dari separuh kebutuhan nikel dunia. Gangguan produksi di dalam negeri berpotensi memberikan efek berantai terhadap industri baterai, khususnya di China yang memiliki peran dominan dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
Dikutip VIVA dari SCMP pada Sabtu (7/11/2026), lembaga analisis pasar CRU Group memperingatkan bahwa penurunan produksi nikel dapat menambah ketidakstabilan rantai pasok material baterai. CRU Group bahkan merevisi proyeksi produksi nikel yang digunakan untuk bahan baku Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Untuk semester kedua tahun ini, produksinya diperkirakan hanya mencapai sekitar 370.000 ton, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 400.000 ton.
Ancaman tersebut semakin besar seiring fenomena El Nino yang memperburuk kondisi kekeringan di Indonesia. Sementara itu, berdasarkan data International Energy Agency (IEA), China saat ini menguasai sekitar 80 persen kapasitas produksi baterai kendaraan listrik dunia.

















