Menu
Close
    WartaDermayu

    Pengupas Fakta dan Peristiwa

    Buya Yahya Ungkap Keistimewaan Menjadi Santri di Hari Santri Nasional

    Smallest Font
    Largest Font

    Menjadi santri memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menghafal kitab, mendalami ilmu agama, atau menjalani kehidupan yang penuh kesederhanaan di pondok pesantren. Hal ini mencakup kesempatan emas bagi setiap individu untuk membentuk akhlak mulia, melatih kedisiplinan diri, serta menumbuhkan rasa hormat dan takzim kepada guru maupun orang tua.

    Dalam peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober, KH Yahya Zainul Ma'arif atau yang akrab disapa Buya Yahya mengingatkan seluruh santri bahwa kesempatan menimba ilmu di lingkungan pesantren merupakan sebuah anugerah besar yang wajib disyukuri. Beliau berpesan agar para santri tidak menyia-nyiakan waktu belajar mereka.

    Menurut ulama yang dikenal luas melalui ceramah keagamaannya tersebut, kehidupan di pesantren adalah bagian dari perjalanan menuntut ilmu yang memiliki nilai ibadah tinggi. Terlebih lagi, jika seluruh proses tersebut dijalani dengan niat yang tulus serta adab yang baik dalam keseharian.

    "Anak-anakku, pertama dan utama yang harus kalian sadari bahwa kalian ini menjadi anak-anak yang beruntung. Karena Allah telah memilih kalian untuk tinggal di tempat yang mulia. Untuk menjadi wasiatnya Rasulillah," ujar Buya Yahya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube miliknya pada Kamis (22/10/2026).

    Kesempatan Menuntut Ilmu

    Salah satu keutamaan utama bagi seorang santri adalah memperoleh peluang emas untuk mempelajari ilmu agama sekaligus membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan terbukti sangat membantu santri dalam belajar mengenai arti tanggung jawab, kemandirian, kebersamaan, dan kedisiplinan.

    Lebih lanjut, Buya Yahya menegaskan bahwa para penuntut ilmu merupakan sosok yang perlu disambut dan dihargai karena mereka saat ini sedang menjalani proses yang sangat mulia bagi masa depan umat. "Jika datang kepada kalian sekelompok kaum yang menuntut ilmu seperti kalian ini, maka sambutlah," tutur Buya Yahya.

    Beliau juga menjelaskan bahwa setiap aktivitas yang dilakukan santri di pesantren dapat bernilai ibadah besar apabila dilakukan dengan niat yang benar. Bahkan, kegiatan yang tampak sederhana seperti beristirahat setelah belajar pun menjadi bagian dari kehidupan yang bermakna selama tidak melalaikan kewajiban utama mereka sebagai pelajar.

    "Setiap hembusan nafasmu akan jadi pahala untuk orang tuamu, untuk kakek moyangmu, untuk dirimu sendiri. Tidurmu pun ibadah di pondok, tapi jangan tidur terus," ucapnya.

    Adab sebagai Kunci Keberkahan

    Selain menuntut ketekunan dalam belajar, Buya Yahya menekankan betapa pentingnya menjaga adab kepada guru. Baginya, ilmu tidak cukup hanya dipahami melalui buku atau sekadar hafalan, tetapi juga perlu disertai dengan sikap rendah hati serta kesediaan untuk menerima nasihat dari para pengajar.

    "Kalau pengin menjadi anak yang cepat dalam menuntut ilmu, kalian harus punya adab dengan guru, dengan Abah," kata beliau dengan tegas. Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh santri agar senantiasa menjaga perilaku sebagai cerminan dari ilmu yang telah mereka pelajari di lingkungan pondok.

    Follow wartadermayu.comAdd to preferred sources on Google
    Editors Team
    Kirana Larasati

    Most viewed